Info Pertanian: WEBINAR NASIONAL AGRIXPLOSION 2020 | Pengumuman Sub Bagian Kemahasiswaan dan Alumni FP | Mahasiswa FP UNS Juara 2 LKTI Nasional Bidang Teknologi Pangan | PENYULUHAN DAN PENGENALAN BUDIDAYA PISANG HASIL KULTUR JARINGAN PADA GABUNGAN KELOMPOK TANI” SARI TANI” DESA GENTAN, KECAMATAN BENDOSARI, KABUPATEN SUKOHARJO | Workshop Rekonstruksi Dan Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar – Kampus Merdeka |

Sektor Pertanian Terbukti Menjadi Penyelamat Bangsa di Masa Krisis

Rabu, 17 Juni 2020 Fakultas Pertanian UNS menyelenggarakan webinar dengan mengangkat tema “Daya Saing Agribisnis Di Era New Normal : Peluang dan Tantangan”. Webinar dilaksanakan atas inisiasi dari Program Studi Agribinis dengan menghadirkan narasumber  Prof. Dr. Hermanto Siregar, M.Ec (Guru Besar Fakultas Ekonomi dan manajemen IPB yang juga sebagai Ketua umum PB PERHEPI); Prof. Dr. Masyhuri (Guru Besar Fakultas Pertanian UGM); Dr. Ir. Mohd Harisuddin, M.Si (Dosen Prodi Agribisnis FP UNS); dan Dr. Tedy Dirhamsyah, SP, MAB (Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian Perkebunan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Balitbangtan Kementan RI).

Dengan mengangkat permasalahan “Peluang Ekspor Produk Substitusi Impor di Indonesia pada Pandemi Covid 19 dan New Normal”,  Prof. Dr. Hermanto Siregar. M.Ec mengemukakan bahwa berdasarkan HS Sistem , “Secara sektoral, neraca perdagangan sektor pertanian mengalami surplus, secara subsektor, semuanya mengalami defisit kecuali subsektor perkebunan”.

Prof. Hermanto juga menyampaikan bahwa  organisasi perdagangan dunia atau WTO memprediksi bahwa volume perdagangan global akan turun 13 – 32 % pada tahun 2020 disebabkan Covid-19, ekspor asia turun antara 14 – 36 %, sedangkan impornya turun antara 12 -32%.

“Di era pandemi Covid 19, perdagangan global, baik ekspor maupun impor cenderung akan menurun. Oleh sebab itu upaya mendorong ekspor komoditas pertanian /produk pangan di tahun 2020 diperkirakan tidak efekif atau sulit dilakukan”.

Optimisme juga disampaikan Prof. Hermanto bahwa  pertumbuhan ekonomi global tahun 2021 diperkirakan akan pulih ke kisaran 5,9-7,4 %. “Sektor pertanian dan pangan Indonesia  harus disiapkan agar memanfaatkan pertumbuhan ekonomi tersebut , bersiap tingkatkan ekspor beberapa item untuk memacu produkstifitas , kualitas dan daya saing”.

Sedangkan Prof. Masyhuri dari UGM dalam paparannya menyampaikan beberapa strategi  sektor pertanian menghadapi Covid-19 diantaranya adalah

  1. Program Perlindungan dan pemberdayaan petani, berupa bantuan kepada petani mis BPJS, BLT, bantuan bibit, bantuan bunga bank, premis asuransi
  2. Peningkatan produksi dalam negeri : perluasan lahan (transmigrasi dan sistem korporasi agribinis)
  3. Peningkatan produkstifitas (bibit, rehabilitasi, intensitas tanam)
  4. Perbaikan kelembagaan
  5. Kebijakan pangan yang komprehensif

Prof. Masyhuri menyampaikan beberapa rekomendasi antara lain Strategi sektor pertanian yg diperlukan adalah stategi menghadapi pandemi yg mendesak dan jangka panjang sehingga sektor pertanian menjadi kuat selamanya; Strategi menghadapi pandemi sangat urgen karena produksi  pangan harus cukup tersedia bagi penduduk yang sedang menghadapi penyakit covid-19; Bila pangan tidak mencukupi maka akan sia-sia upaya penyembuhan covid 19 karena akabitanya bisa fatal

Tampil sebagai pembicara ketiga Dr. Ir. Harisudin, M.Si  mengangkat judul “Orientasi Baru Pengembangan Sistem Agribisnis” dari produksi menuju pasar .

Disampaikan Dr. Harisudin yang juga merupakan Rektor Universitas Sahid Surakarta bahwa  dalam menghadapi pandemi Covid-19 keadaan Indonesia lebih baik dibanding negara lain.

“Keadaan Indonesia lebih baik dibanding negara lain karena Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia  pada Qurtal I tahun  2020 sebesar 2.97 % (Mei 2020) dibanding negara lain yg minus pertumbuhannaya  karena  Indonesia negara agraris , sektor pertanian adalah sektor yang terdampak paling rendah akibat covid-19, produksi pertanian elastisitas permintaanya rendah, sektor pertanian juga berperan sebagai sektor penyangga (buffer sector)  menampung tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan.”

“Sejarah kembali mencatat bahwa pertanian adalah penentu stabilitas nasional saat krisis stelah peristiwa 98.”

“Karena pertanian sebagai sektor paling stabil menghadapi kriisis, pertanian menyerap tenaga kerja yang begitu  banyak 35.41 juta, maka mau tidak mau ini momentum bagi kita semua,  pemerintah utamanya harus  menjadikan momentum ini , Pertanian harus dijadikan sebagai momentum bahwa sektor pertanian sebagai sektor prioritas pembangunan kedepan.”

Dr. Harisuddin juga menyampaikan pentingya orientasi baru sistem agribisnis berbasis digital, sehingga dapat memutus jalur panjang dari produsen hingga sampai kepada konsumen. Juga diharapkan pemerintah dapat mengambil kebijakan di sektor pertanian agar sektor ini menjadi lebih menarik dan menggoda serta kebijakan yang mendorong petani agar dapat menghasilkan produk yang bermutu dan berdaya saing.

Dr. Harisuddin juga menyampaikan beberapa rekomendasi antara lain :

  1. Sektor pertanian bukanah sebagai sektor potensial tetapi secara historis dan riil telah menjadi sektor penyelamat bangsa Indonesia dari krisis besar, bahkan menjadi sektor penyangga disaat sektor yang lain ditinggalkan pelakunya
  2. Menunggu eksekusi pemerintah untuk menjadikan pertanian sebagai sektor andalan dan mulai membangun infrastruktur digital di sektor pertanian