Info Pertanian: WEBINAR NASIONAL AGRIXPLOSION 2020 | Pengumuman Sub Bagian Kemahasiswaan dan Alumni FP | Mahasiswa FP UNS Juara 2 LKTI Nasional Bidang Teknologi Pangan | PENYULUHAN DAN PENGENALAN BUDIDAYA PISANG HASIL KULTUR JARINGAN PADA GABUNGAN KELOMPOK TANI” SARI TANI” DESA GENTAN, KECAMATAN BENDOSARI, KABUPATEN SUKOHARJO | Workshop Rekonstruksi Dan Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar – Kampus Merdeka |

Peran Strategis Petani Milenial Dalam Mendukung Ketahanan Pangan

Sabtu, 6 Juni 2020, Fakultas Pertanian UNS bekerjasama dengan PERAGI (Perhimpunan Agronomi Indonesia) Komda Jawa Tengah menyelenggarakan webinar dengan mengangkat tema “Menumbuhkembangkan Petani Milenial Untuk Mendukung Ketahanan Pangan” .  Webinar menghadirkan narasumber baik dari akademisi dan praktisi lapangan, diantaranya adalah Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS (Guru Besar Fakultas Pertanian UNS dan juga merupakan Ketua PERAGI Komda Jawa Tengah); Dr. Ir. Puji Harsono, MP (Dosen FP UNS dan juga praktisi produk hortikultura utamanya cabai); dan Ir. Widodo (Penyuluh Berprestasi, BPP Sambungmacan Sragen).

Mengawali menyampaikan materi adalah Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS.  Dengan mengangkat topik “Peran Petani Milenial Era dan Pasca Pandemi Covid-19 Dalam Mendukung Ketahanan Pangan” Prof. Bambang mengemukakan bahwa  peran petani milenial sangatlah penting

“Sekitar 975.000 petani di Jawa Tengah atau  33,7  %  petani di Jawa Tengah adalah petani milenial, itu berpotensi dan sangat sudah terbukti meningkatkan ekspor di Jawa Tengah  di berbagai negara, bahkan untuk ekspor di Jawa Tengah mencapai 2,51 T tahun lalu dan ini juga merupakan peran para petani milenial”.

Prof. Bambang juga menekankan pentingnya ketahanan pangan yang didukung peran para milenial “Pada masa depan Indonesia akan menjadi seksi dimata dunia karena akan menjadi penentu penghasil pangan dan energi di dunia, juga Indonesia menjadi penentu karena merupakan negara terbesar di lintasan khatulistiwa selain Brasil “.

“Pada era bionergi, maka negara di bawah garis khatulistiwa menjadi negara penentu karena sumber energi utama adalah matahari. Hanya di bawah ekuator matahari bersinar sepanjang tahun , sehingga mesin penghasil bioenergi terbesar adalah Indonesia”.

Namun demikian Prof. Bambang juga memprihatinkan minimnya jumlah petani milenial di Indonesia yang hanya 8 % atau 2,7 juta dari total petani di Indonesia yang mencapai 33.4 juta petani. Ditambahkan Prof. Bambang, penyebab rendahnya jumlah petani milenial antara lain :

  1. Penghasilan tenaga kerja di sektor pertanian lebih rendah dibanding dengan sektor industri dan jasa
  2. Prospek karir lebih menjanjikan di sektor non pertanian
  3. Dorongan dari keluarga petani yang ingin generasi penerusnya tidak menjadi petani
  4. Semakin sulitnya lahan subur akibat dari konversi lahan yang tidak terkendali
  5. Petani kurang memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan agribisnis termasuk kemampuan manajerial

Sedangkan strategi menumbuhkembangkan petani milenial antara lain :

  1. Tranformasi pendidikan tinggi vokasi pertanian
  2. Inisiasi penumbuhan wirausahan muda pertanian
  3. Pelibatan mahasiswa/alumni /pemuda utk mengintensifkan pendampingan petani/pengawalan program
  4. Penumbuhan kelompok usaha bersama (KUB) bidang pertanian
  5. Pelatihan dan magang bagi pemuda utk bidang pertanian
  6. Optimalissi penyuluh pertanian

 

 

Narasumber kedua adalah Dr. Ir. Puji Harsono , MP dengan mengangkat judul  “Pendampingan Petani Milenial pada Budidaya Cabai di Lahan Kering dengan Input Rendah Berbasis Kemitraan “ studi kasus lahan Kering Desa Cabeyan, Kabupaten Sukoharjo.

Dr. Puji Harsono menyampaikan bahwa “Lahan kering yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan potensi tanaman pangan di Indonesia mencapai 80 juta hektar, baru 10% (8 juta hektar) yang dimanfaatkan untuk tanaman pangan”.

Dr. Puji Harsono yang juga  tergabung dalam  Tim Bintek FP UNS dalam Pendampingan Petani Milenial telah melaksanakan model pendampingan kebeberapa kelompok tani dan kelompok wanita tani.

Anggota kelompok tani dan kelompok wanita tani dalam mengikuti kegiatan Pendampingan oleh Tim Bintek diwajibkan aktif sejak penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, panen, pasca panen, pemasaran dan pelatihan pemanfaatan HP Androit untuk akses link informasi cuaca BMKG dan informasi harga SiHaTi”.

“Harapannya petani milenial di lahan kering sehingga bisa mengakses informasi cuaca juga info harga pangan , dari situ petani bisa mengaplikasikan kapan saat tanam, pemiliharaan, kapan saat panen utk mendapatkan harga yang tinggi”.

Dalam strategi kemitraan Tim Bintek Fakultas Pertanian UNS  menggandeng pihak swasta Waroeng Spesial Sambal “SS” Indonesia  dalam  mendampingi anggota Kelompok tani  dan Kelompok wanita tani dalam usahatani cabai di lahan kering  melalui Program CSR “Genggam Jemari untuk Indonesia” berupa; Lahan demplot cabai luas 5000 m2 & biaya usahatani, beasiswa sekolah lapangan (5 bulan), 2 Unit sumur submersible water electric pump, 1 unit mesin cultivator, 2 unit power sprayer.

 

Tampil sebagai narasumber ketiga Ir. Widodo mengangkat judul “Dengan Semangat Menanam Yakin Ketahanan Pangan Aman Bersama Petani Milenial Sambungmacan”
Ir. Widodo merupakan sosok THL yang berprestasi  dan mampu merubah wajah BPP Sambungmacan hingga memiliki beberapa program unggulan diantaranya adalah “Cangkok Gratis” hingga mewujudkan obsesinya menjadikan Sambungmacan sebagai kawasan buah unggulan. Ir. Widodo juga berhasil  melahirkan para petani milenial yang terlibat langsung mengurusi Kegiatan usaha tani .