Rektor UNS Kukuhkan Dua Guru Besar Baru pada Fakultas Pertanian
Tuesday, 14 September 2021 60 View

Rektor UNS Kukuhkan Dua Guru Besar Baru pada Fakultas Pertanian

Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (FP UNS)  menambah dua guru besar baru, pengukuhan dilaksanakan dalam Sidang Terbuka Senat Akademik pada Selasa, 14 September 2021 secara daring dan luring. Kedua guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Mohamad Harisudin, M.Si dan  Prof. Sutrisno Hadi Purnomo, S.Pt, M.Si, Ph, D.

Prof. Dr. Ir. Mohamad Harisudin, M.Si merupakan guru besar bidang Ilmu Manajemen Strategi Agribisnis pada Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian UNS. Beliau merupakan guru besar ke-35 FP dan ke-237 UNS. Dalam Sidang Terbuka Senat Akademik tersebut Prof. Harisudin membacakan pidato pengukuhan dengan judul  “Manajemen Ketahanan Pangan Nabi Yusuf AS : Perspektif Manajemen Strategi dan Alternatif Solusi Bagi Indonesia”.

Sedangkan Prof. Sutrisno Hadi Purnomo, S.Pt, M.Si, Ph, D merupakan guru besar bidang ilmu Sosial Ekonomi Peternakan pada Prodi Peternakan FP UNS. Beliau merupakan guru besar ke-36 FP dan ke-238 UNS. Dalam Sidang Terbuka  Senat Akademik tersebut membacakan pidato pengukuhan dengan judul “Kajian Integrasi Tanaman dengan Ternak untuk Ketahanan Pangan di Indonesia”.

Dalam pidato pengukuhannya Prof. Harisudin menyoroti tentang bagaimana strategi untuk menjamin ketahanan pangan sehingga dapat terwujud secara berkelanjutan dan menggunakan pembahasan secara perspektif Islam.

Nabi Yusuf AS sebagai Role Model Ketahanan Pangan

Prof. Harisudin mencontohkan Nabi Yusuf AS berhasil menghindarkan bangsa Mesir dari tragedi kelaparan karena saat itu tidak terjadi panen selama 7 tahun berturut-turut (21 kali masa tanam) dikarenakan kemarau panjang selama 7 tahun.

Menurut Prof. Harisudin, bahwa keberhasilan Nabi Yusuf AS  dalam mewujudkan tujuannya dapat dijelaskan sesuai manajemen modern, utamanya manajemen strategi yang diadopsi dari perspektif manajemen strategi yang terdiri dari perumusan strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi.    

Dalam perumusan strategi yang tujuan utamanya adalah swasemba pangan, Nabi Yusuf AS menggunakan strategi bertingkat  :

  1. Sistem produksi gandum secara massal sehingga stok pangan terjamin, dengan mengoptimalkan sumberdaya lahan-ekstensifikasi, pembangunan sistem irigasi. Membuat kebijakan untuk meningkatkan produksi gandum secara bersama. Cara bercocok tanam dengan sistem perencanaan yang detail hingga pengelolaan pasca panen.
  2. Sistem penyimpanan cadangan pangan, dengan membangun lumbung-lumbung khusus yang berada di setiap kota dengan konsep first in firs out. Cara penyimpanan dengan cara biji gandum masih menempel pada tangkainya sehingga lebih tahan lama dan terhindar dari kerusakan.
  3. Budaya hidup sederhana dan hemat, hasil produksi yang banyak pada masa panen proporsinya harus lebih banyak yang disimpan di lumbung-lumbung. Himbauan kepada semua warga termasuk raja agar hemat dan sederhana sehingga masih ada untuk persediaan tujuh tahun berikutnya yang merupakan masa yang sulit/paceklik.

Membangun Swasembada Pangan Indonesia

Masih menurut Prof. Harisudin bahwa keberhasilan Nabi Yusuf AS dalam mengatasi permasalahan pangan bangsa Mesir saat itu disebabkan al : Nabi Yusuf AS sangat memahami secara menyeluruh permasalahan pangan yang dialami bangsa Mesir, sangat memahami lingkungan dan Nabi Yusuf AS mempunyai kewenangan dalam membuat dan merumuskan strategi dan keputusan permasalahan pangan.

Dalam konteks membangun swasembada pangan di Indonesia, Prof. Harisudin memberikan beberapa rekomendasi  diantaranya adalah :

  1. Meredefinisi isitilah Ketahan Pangan sehingga diperoleh pemahaman terkini
  2. Perlunya sebuah lembaga yang mempunyai otoritas membangun ketahanan pangan secara holistik dan hanya bertugas membangun ketahanan pangan nasional, dan berada di bawah Presiden serta mempunyai target untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan.

Sementara itu Prof. Sutrisno Hadi Purnomo, S.Pt, M.Si, Ph,D menyampaikan pentingnya integrasi tanaman-ternak sehingga dapat menurunkan biaya input produksi baik untuk tanaman maupun ternaknya yang disebut Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA); juga dalam hal konservasi alam dapat meingkatkan kesubruran tanah, meningkatkan produksi tanaman, mendaur ulang unsur hara, meningkatkan penggunaan lahan dan meningkatkan kelestarian lingkungan.

Integrasi Tanaman-Ternak

“Selama ini di Indonesia sudah mengimplementasikan integrasi tanaman-ternak yaitu integrasi tanaman pangan-ternak, integrasi hortikultura – ternak, integrasi tanaman perkebunan-ternak, serta integrasi tanaman hutan –ternak”.

Sedangkan permasalahan integrasi tanaman-ternak di Indonesia berupa penerapan integrasi tanaman-ternak di Indonesia belum dilaksanakan secara optimal, juga  perlu dilakukan suatu upaya untuk meningkatkan penerapan inovasi teknologi pakan dan pupuk organik dalam integrasi tanaman-ternak di kalangan petani dan peternak.

Prof. Sutrisno Hadi juga mengadakan kajian mengenai hambatan integrasi tanaman-ternak di Indonesia untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memberikan hambatan terhadap penerapan integrasi tanaman-ternak . Faktor tersebut adalah hambatan produksi, hambatan pengetahuan, hambatan infrastruktur, hambatan pemerintah dan hambatan ekonomi.

Alternatif Solusi

Alternatif solusi dari faktor-faktor yang menghambat dengan mengurangi hambatan produksi dapat dilakukan dengan menyediakan akses input produksi; upaya mengurangi hambatan pengetahuan dengan ketersediaan pelatihan untuk belajar teknologi inovasi pakan ternak dan pupuk organik; pemerintah memiliki kebijakan dan peraturan yang mendukung pertanian organik; serta upaya meningkatkan dan menyediakan pasar dengan produk promosi dari hasil integrasi pertanian.

link Youtube : download