Peringati Hari Pangan, FP UNS Bahas Eksistensi Petani Milenial
Friday, 22 October 2021 85 View

Peringati Hari Pangan, FP UNS Bahas Eksistensi Petani Milenial

Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ingin menumbuhkembangkan eksistensi petani milenial. Langkah yang dilakukan adalah dengan menggelar berbagai pelatihan dan inovasi teknologi digital dengan konsep smart farming.

Hal itu diutarakan Dekan FP UNS, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, SP, M.Si, IPM, ASEAN Eng, saat membuka Webinar Nasional secara daring dan luring dengan tema Menumbuhkembangkan Petani Milenial dalam Membangun Ketahanan Pangan Pasca Covid-19, Rabu (20/10). Webinar digelar untuk memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh 16 Oktober 2021.

“Ada keinginan untuk membangun kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi maupun dengan dunia industri dalam menumbuhkembangkan petani milenial,” demikian disampaikan  Prof. Samanhudi.

Hadir sebagai pembicara dalam Webinar Nasional tersebut adalah Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Kementerian Pertanian Ir. Bustanul Arifin Caya, M.D.M. Beliau memaparkan tentang strategi dan kebijakan pemerintah dalam mendukung petani milenial.

Arah kebijakan Kementerian Pertanian RI pada 2020-2024, paparnya, adalah terjaganya ketahanan pangan nasional, meningkatnya nilai tambah dan daya saing pertanian, menjaga keberlanjutan sumberdaya pertanian serta tersedianya prasarana dan sarana pertanian. Selanjutnya Program petani milenial di Kementerian Pertanian meliputi pendidikan vokasi, pelatihan vokasi, dan penumbuhan wirausaha muda pertanian.

“Kemudian youth entrepreneurship and employement supporty services (YESS), kostratani, dan duta petani milenial andalan (DPA),” ujarnya.

Pembicara kedua adalah anggota DPRD Kabupaten Sragen, Wulan Purnama Sari, M.I.Kom, yang mengurai tentang bagaimana membangun jejaring dan komunikasi yang efektif dalam mengembangkan petani milenial. Kepercayaan (trust), kata beliau, bagaimana petani milenial bisa membangun kepercayaan dengan pemerintah dan juga dengan perusahaan-perusahaan dengan cara membangun reputasi yang baik (building good brand image).

Kemudiam menetapkan tujuan, bagaimana petani milenial menetapkan tujuannya secara SMART (specific, measurable, achieveable, realistic and timed). Misalnya bagaimana memasarkan produk dengan cara mudah dan dikenal.

Petani milenial juga diharapkan bisa memperluas jejaring di antaranya berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal seperti dengan mengikuti komunitas baru. “Memanfaatkan jejaring dan simbiosis mutualisme, bagaimana pemerintah dan perusahaan bisa membantu petani milenial dan sebaliknya,” kata  Wulan Purnama Sari, M.I.Kom.

5 Pilar

Dosen penyuluhan pertanian pada Fakultas Pertanian UNS, Dr. Agung Wibowo, SP, M.Si menyampaikan lima pilar penyuluhan pertanian dalam memberdayakan petani milenial. Lima pilar itu adalah keilmuan dan kapasitas penyuluh pertanian, kelembagaan penyuluhan pertanian, governance system penyuluhan pertanian, regulasi penyelenggaraan penyuluhan pertanian, dan keberadaan organisasi profesi.

“Mensinergikan program kementerian pertanian, program Merdeka Belajar Kampus Merdeka perguruan tinggi, dan corporate social responsibility dari perusahaan akan menjadi katalisator dalam menumbuhkembangkan petani milenial pasca pendemi covid-19,” kata Dr. Agung.

Pada keempatan tersebut hadir secara virtual Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin. Beliau menyampaikan tentang gerakan menumbuhkan petani milenial di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Contoh yang dilakukan adalah pemanfaatan solar cell untuk irigasi sawah. Dengan keberadaan solar cell akan meningkatkan diversifikasi produk pertanian, produksi, produktivitas yang bermuara peningkatan pendapatan petani.

“Selain itu juga menggerakkan petani muda untuk memproduksi pupuk secara mandiri, pestisida organik yang akan menekan biaya produksi,” jelas Mochamad Nur Arifin.

 

link Youtube : download

artikel ini juga tayang di Solopos.com