header-int

Bimbing Emak-Emak Plosorejo Olah Bekatul Jadi Produk Pangan Marketable

Selasa, 08 Sep 2020, 14:04:42 WIB - 38 View
Share
Bimbing Emak-Emak Plosorejo Olah Bekatul Jadi Produk Pangan Marketable

PLOSOREJO merupakan desa dengan penghasil padi terbanyak di Kecamatan Matesih, Karanganyar. Total produksi padi rata-rata untuk satu kelompok tani sebanyak 40 ton per sekali panen. Limbah hasil samping penggilingan padi, seperti bekatul biasanya hanya dimanfaatkan masyarakat sebagai pakan ternak dan pupuk tanaman tanpa ada pengolahan. Sayangnya, tidak semua bekatul di penggilingan padi terserap oleh pasar.

Nurul dan teman-temannya saat melakukan bimbingan secara online. (SEPTINA FADIA/RADAR SOLO)

Hampir 30 persen limbah bekatul menumpuk di penggilingan dan daya serap pasar sudah maksimal, sehingga seringkali dimanfaatkan rumah pengilingan untuk ditaburkan ke lahan persawahan. Potensi produksi padi yang melimpah mendukung berdirinya 25 industri penggilingan padi di Plosorejo. Penggilingan dengan perkiraan 10 ton per hari padi menghasilkan bekatul sebanyak 0,5 ton per hari.

“Pada kondisi lain, ada kelompok masyarakat nonproduktif yaitu kelompok dasawisma Dahlia Putih. Kegiatannya selama ini masih sebatas berkumpul saja. Padahal hampir seluruh anggota kelompok dasawisma merupakan ibu rumah tangga nonproduktif secara ekonomi yang memiliki waktu luang,” beber Nurul Fadhilah, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) ini, kemarin.

Nurul bersama beberapa mahasiswa lain, yakni Cahyani Fahmiati, Puspita Annisa Utami, Rofiq Sulthon, Yasmin Afifah, dan Yunita Anggraini lantas membuat kegiatan bernilai strategis. Ini untuk meningkatkan potensi ekonomi kelompok dasawisma Dahlia Putih berbasis potensi lokal bekatul. Apalagi mereka melihat fakta jika selama ini permintaan bekatul sebagai bahan pangan manusia, baik sebagai bahan mentah maupun olahan sangat tinggi. Namun, supplier masih sangat terbatas.

“Bekatul di desa tersebut melimpah dan selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, permintaan bekatul sebagai bahan pangan manusia, baik sebagai bahan mentah maupun olahan sangat tinggi. Namun, supplier masih sangat terbatas,” sambungnya.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, Nurul dan rekan-rekannya tetap melaksanakan kegiatannya melalui online. Menggunakan platform digital Zoom, mereka membimbing masyarakat setempat mulai dari mengemas bekatul mentah, membuat bubur, cookies, nastar, dan biskuit. Semua bahannya berasal dari bekatul. Mereka juga dilatih mengemas produk jadi, sampai memasarkan produk.

“Tujuan kegiatan ini juga untuk mengurangi masalah limbah hasil samping penggilingan padi dengan memanfaatkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Kemudian, merintis pembentukan UMKM untuk meningkatkan produktivitas masyarakat,” jelasnya.

Nurul menilai kelompok masyarakat yang mayoritas beranggotakan ibu rumah tangga perlu ditingkatkan kemandirian ekonominya. Sayangnya, berbagai usaha ekonomi yang dirintis oleh kelompok tersebut belum berhasil karena kelemahan dalam aspek pemilihan usaha, pasar, serta manajemen usaha.

“Untuk itu, kami berupaya meningkatkan keterampilan warga Desa Plosorejo ini dalam mengolah bekatul menjadi bahan pangan dan aneka olahan yang bernilai ekonomis. Sekaligus menangkap peluang permintaan pasar terhadap kebutuhan bekatul dan olahannya sebagai peluang ekonomi. Juga memanfaatkan potensi 30 persen produksi bekatul di penggilingan Desa Plosorejo yang selama ini belum terserap oleh pasar,” ungkapnya.

Program pemberdayaan yang akan dilakukan yaitu melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam mengoptimalkan potensi bekatul menjadi produk bahan bekatul yang marketable. Serta aneka olahan bekatul seperti bubur bekatul, cookies, dan aneka kue kering lainnya.

“Matesih itu kan jalur alternatif menuju tempat wisata di Tawangmangu, Karanganyar. Program ini akan memberikan dampak positif atau nilai tambah kepada masyarakat Desa Plosorejo, dalam meningkatkan perekonomian masyarakat dan melatih keterampilan,” ujarnya. (*/bun/ria)

Artikel ini telah tayang di https://radarsolo.jawapos.com/read/2020/09/05/212352/bimbing-emak-emak-plosorejo-olah-bekatul-jadi-produk-pangan-marketable, 05 SEPTEMBER 2020, 00: 11: 12 WIB

(rs/aya/per/JPR)

| FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET| COPYRIGHT © 2020. ALL RIGHTS RESERVED.
© 2020 Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Follow Fakultas Pertanian UNS : Facebook Instagram Twitter Linked Youtube