BAB I

PENDAHULUAN

 

Tujuan utama pembangunan sektor pertanian baik dunia maupun kawasan adalah untuk menaikkan produksi pertanian guna meningkatkan pendapatan petani dan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, khususnya kebutuhan pangan penduduk yang populasinya meningkat dengan cepat. Pada tahun 2000 ini penduduk di dunia diperkirakan mencapai 6,1 milyard dimana tiga perempat dari populasi ini hidup di negara berkembang dan lebih kurang separuhnya hidup di kawasan Asia dan Pasifik. Permintaan akan pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, dan gaya hidup semakin meningkat. Ini berarti diperlukan lahan yang semakin luas, produksi bahan pangan, sandang, dan papan yang semakin meningkat pula (Triharso, 1974).

Skala pertumbuhan penduduk seperti di atas akan berdampak serius di negara berkembang, terutama pembangunan pertanian dan pedesaan khususnya dalam menghadapi penyerapan tenaga kerja. Kemungkinan untuk memperluas daerah pertanian baru adalah sangat terbatas, misalnya dengan mengadakan irigasi di daerah gurun pasir (Timur Tengah, Amerika Serikat, Afrika Utara), reklamasi dari daerah laut (Belanda, Jepang), pembukaan persawahan pasang surut di daerah Kalimantan dan Sumatera (Indonesia). Pembukaan satu juta hektar persawahan di lahan gambut di Kalimantan gagal dan terlantar. Hasil usaha tersebut belum dapat mengatasi masalah pangan bagi penduduk yang memiliki laju pertumbuhan lebih cepat.

Pilihan usaha lain adalah meningkatkan persatuan luas (intensifikasi). Intensifikasi dilakukan melalui panca usaha tani , yaitu : 1. Penggunaan bibit unggul yang berangka hasil tinggi, sedapat mungkin tahan terhadap hama dan penyakit, serta rasanya enak; 2. Penggunaan pupuk yang rasional; 3. Mengusahakan irigasi yang teratur; 4. Meningkatkan teknik bercocok tanam yang lebih menguntungkan, misalnya dengan mengatur saat tanam, jarak tanam, pemeliharaan, dan cara panen yang tepat; 5. Pengendalian terhadap OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) melalui higenis pertanaman, penggunaan kimia pestisida yang rasional.

Di Indonesia usaha intensifikasi telah memberikan hasil yang positif, ditandai dengan meningkatnya produksi pertanian secara nyata sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Puncak produksi pangan khususnya beras telah tercapai sehingga Indonesia dikenal dunia sebagai negara berswasembada beras. Tetapi swasembada beras nampaknya sulit dipertahankan, sehingga Indonesia mulai tahun 1997/98 kembali mengimpor beras dari manca negara. Mengapa demikian ? Nampaknya peningkatan produksi pertanian masih merupakan hal yang cukup rawan, mengingat banyak kendala yang dihadapi. Kendala tersebut antara lain pengaruh dari dua faktor yang sangat dominan, yaitu faktor abiotik dan faktor biotik.

Pengaruh badai El Nino membawa musim kering berkepanjangan, ditambah berkurangnya lapisan Ozon yang membawa dampak bertambahnya panas di bumi mengakibatkan ribuan bahkan jutaan hektar pertanaman padi dan pertanaman pangan lain kering dan tidak dapat dipanen. Kasus lain adalah kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan mencapai ribuan hektar bahkan jutaan hektar, polusi asapnya sampai di Singapura dan Malaysia. Bencana alam gunung berapi seperti awan panas, mengalirnya lava panas maupun dingin dapat menghanguskan dan menyapu tanaman pertanian di sekitarnya, abu gunung yang disemburkan juga dapat menurunkan produksi tanaman atau bahkan memusnahkan tanaman pertanian. Angin puyuh sering mengakibatkan tanaman roboh, patah, defoliasi, aborsi buah, dan kerusakan lain pada tanaman. Bencana banjir juga sering melanda dimana-mana baik di kawasan maupun di dunia, mengakibatkan ribuan bahkan jutaan lahan pertanian terendam air dan mati. Embun es mengakibatkan kematian pucuk tanaman. Pencemaran logam berat yang berasal dari limbah industri sering mengganggu pertumbuhan tanaman. Seluruh kejadian di atas merupakan kendala yang berasal dari faktor abiotik.

Kendala yang berasal dari faktor biotik adalah adanya gangguan dari OPT yang terdidi atas hama, penyakit, dan gulma. Menurut Triharso (1994) gangguan adalah setiap perubahan pertanaman yang mengarah pada pengurangan kuantitas atau kualitas dari hasil yang diharapkan.

Macam gangguan yang berasal dari faktor biotik antara lain: kerusakan akar, kerusakan  batang, kerusakan daun, kerusakan cabang, ranting dan pucuk, kerusakan bunga, buah dan biji, dan kerusakan pada umbi atau ubi.

Di dalam mempelajari interaksi antara tanaman dengan OPT perlu dibedakan dua pengertian tentang luka (“injury”) dan kerusakan (“damage”). Menurut Main (1977) cit. Untung (1993) luka adalah setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas atau serangan OPT.

Perlu dicatat bebrapa kasus seperti bunga tulipa yang warna mahkotanya belang-belang karena serangan virus, meskipun mengalami proses fisiologis yang tidak normal tetapi harganya lebih mahal daripada bunga yang normal. Kasus lain adalah kelapa kopyor harganya lebih mahal daripada yang normal. Demikian pula serangan ulat kipat (Cricula trifenestrata) pada tanaman jambu mete, kedondong dan apokat cenderung memacu pembungaan dan pembuahan lebih banyak daripada tanaman normal. Kasus-kasus di atas meskipun terjadi penyimpangan proses fisiologis, tetapi ditinjau dari segi penanamnya (ekonomi) tidak terganggu karena memberikan keuntungan yang lebih besar.

Tipe pengganggu dapat bersifat biotik dan abiotik. Selain itu, gangguan pada tanaman mungkin dapat disebabkan oleh kerja sama antara dua faktor atau lebih pengganggu. Kerja sama tersebut dapat terjadi dengan cara yang beragam, seperti ditunjukkan oleh tabel berikut.

Antagonisme timbul bila ada satu organisme membuat tidak dimngkinkan adanya organisme lain seluruhnya atau sebagian, misalnya karena dihasilkan antibiotika. Antagonisme timbul pada jamur dan bakteri.

 

Dari tabel 3 dapat dijelaskan peristiwanya sebagai berikut :

1.    A membuat luka, di sini B dapat masuk : A membuat jalan masuk untuk B,

2.    A mentransportasikan B : A adalah vektor B,

3.    A memperlemah tanaman sehingga resistensi tehadap B berkurang : B adalah pengganggu sekunder dari parasit lemah,

4.    Kerugian yang disebabkan oleh a dan B bersama-sama adalah lebih besar daripada jumlah kerugian yang disebabkan oleh A dan B masing-masing :sinergisme,

5.    Pengganggu A memperbesar kerugian sebagai akibat gangguan B, tanpa B sendiri mempengaruhinya (peningkatan agravasi).

(Zadoks, 1970 cit. Triharso, 1993)

Sejarah telah mencatat bahwa peran OPT sebagai pengganggu tanaman adalah sangat penting. OPT mampu membuat kerugian para petani baik kerugian yang dapat dinilai dengan uang maupun kerugian yang sukar dinilai dengan uang. Beberapa contoh kerugian tanaman yang disebabkan oleh gangguan OPT adalah :

1.    Penyakit pada kentang yang disebabkan oleh jamur Phytophtora infestans telah melanda di Irlandia pada tahun 1845, mengakibatkan bencana mati kelaparan bagi satu juta orang dan kurang lebih satu setengah juta penduduk yang hanya 8 juta orang.

2.    Di Benggala India pada tahun 1942 terjadi kerusakan padi karena jamur Helminthosporium oryzae yang menyebabkan kerugian 50 – 90 % dan berakibat terjadinya kelaparan.

3.    Penyakit habang virus (Indonesia) atau penyakit merah (Malaysia) atau penyakit tungro (Filipina) atau penyakit yellow orange leaf (Thailand) pernah dapat merusak padi seluas 10.000 sampai 660.000 hektar di negara-negara Asia Tenggara tersebut.

4.    Ledakan populasi hama weereng coklat batang padi Nilaparvata lugens di Indonesia pada tahun 1975-1976 mampu merusak pertanaman padi hingga ratusan ribu hektar dinyatakan puso.

5.    Hama babi hutan merupakan gangguan utama tanaman pertanian di daerah pemukiman transmigrasi baik di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dimana kerusakan yang ditimbulkan mencapai ribuan hektar.

6.    Ratusan bahkan ribuan hektar tanaman tebu di Lampung, Sumatera, sering dirusak oleh kawanan gajah hutan mengakibatkan kerugian yang sangat besar.

Contoh kerugian yang sukar dinilai dengan uang adalah :

1.    Matinya serangga berguna yang berperan sebagai parasitoid, predator maupun patogen serangga.

2.    Matinya serangga-serangga penyerbuk, penghasil madu, penghasil shellak dan serangga pemakan gulma.

3.     Matinya binatang liar seperti ular (pemangsa tikus), burung dan ikan.

4.    Gangguan kesehatan bagi penyemprot pestisida , utamanya gangguan pada syaraf dan timbulnya penyakit kanker.

5.    Rusaknya lingkungan dan terjadinya pencemaran lingkungan.

6.    Adanya residu pestisida yang berada pada hasil tanaman, dalam tanah, lingkungan air bahkan di udara.

Contoh-contoh di atas sebagai dampak dari perlindungan tanaman yang hanya mengandalkan pada satu taktik saja yaitu pestisida, yang digunakan secara berlebihan dan terus menerus.

Usaha yang dilakukan dalam menanggulangi maslah OPT (hama, penyakit dan gulma) berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebelum ditemukan berbagai teknologi pengendalian hama dan penyakit yang bersumber pada ilmu pengetahuan, munculnya masalah hama dan penykit selalu dikaitkan dengan masalah-masalah mistik dan takhayul. Dengan tingkat pengetahuan yang sederhana tersebut maka setiap terjadi suatu ledakan hama atau epidemi penyakit, jalan keluar yang dilakukan adalah dengan upacara ritual seperti selamatan dan upacara lain.

RANGKUMAN

Organisme Pangganggu Tanaman terdiri dari tiga kelompok pengganggu yaitu hama (binatang Vertebrata dan Invertebrata), penyakit (Mikoplasma, Virus, Jamur, Bakteri) dan gulma (rumput-rumputan dan gulma berdaun lebar). OPT tersebut sangat besar peranannya di bidang pertanian karena sebagai pengganggu tanaman mereka mampu membuat luka tanaman, luka menyebabkan kerusakan tanaman, selanjutnya kerusakan tanaman akan berdampak pada penurunan angka hasil dan mutu hasil produksi tanaman. Akhirnya penurunan angka hasil dan mutu hasil tersebut akan berdampak pada kerugian.

Dalam mengganggu tanaman, pengganggu dapat bekerja sendiri-sendiri atau dapat bekerja sama antara dua atau lebih pengganggu (vektor, sinergisme, mengangkut, membuat jalan masuk). Gangguan hama lebih banyak bersifat mekanik yang prosesnya tidak berkesinambungan, gangguang penyakit lebih bersifat gangguang fisiologis tanaman yang sifatnya berkesinambungan dan gangguan gulma lebih bersifat persaingan baik unsur hara maupun cahaya.

Dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup manusia akan pangan dan sandang, maka setiap usaha budidaya pertanian mutlak perlu dilakukan perlindungan tanaman terhadap OPT. Perlindungan tanaman dapat dilakukan melalui berbagai taktik pengendalian hama dan penyakit (mekanik, fisik, kultur teknis, penggunaan tanaman tahan hama dan penyakit, hayati, rekayasa genetik, pemanfaatan senyawa atraktan, repelen, pheromon dan pestisida) yang dilakukan dalam satu kesatuan pengendalian yang lazim dikenal sebagai PHT (Pengendalian/Pengelolaan Hama Terpadu).

Menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas beberapa tahun mendatang serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat orang sadar akan keamanan pangan dan lingkungan. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka peran perlindungan tanaman menjadi semakin peting, utamanya perlindungan tanaman  yang sifatnya ramah lingkungan dan tidak menimbulkan dampak residu pestisida