Info Pertanian: Jadwal Kegiatan Magang Mahasiswa | FP Terima Visitasi Asesor untuk Akreditasi Prodi Agroteknologi dan D3 THP | FP UNS Gembleng Mahasiswa Baru dengan Achievement Motivation Training (AMT) | FAPERTA Lepas Mahasiswa Peserta Internship Magang di Jepang | Usaha Pengembangan Kambing “Boerka” Sangat Prospektif | D3 Agribisnis Selenggarakan Makrab |

Sistem Pertanian Berkelanjutan Solusi Terciptanya Ketahanan Pangan

“Eksploitasi sumberdaya lahan pertanian cenderung mengakibatkan degradasi lahan (lahan tidur, lahan kritis/bekas tambang, belukar), hal ini menyebabkan  penurunan kualitas tanah dan fungsinya produktivitas turun, tanah menjadi masam, bahan organik tanah menipis, hara terkuras , filter lingkungan turun, dsb” demikian dikemukakan Dr. Ir. Asep Nugraha Ardiwinata, MSi,  Kepala Balai Penelitian Pertanian Kementerian Pertanian sebagai salah satu narasumber dalam  Seminar Nasional di Fakultas Pertanian UNS, Kamis 23 Februari 2017.

 

“Namun demikian  permasalahan ini dapat diantisipasi dengan langkah perbaikan kualitas tanah dengan cara restorasi, reklamasi, rehabilitasi tanah antara lain dengan pengembalian bahan organik ke dalam tanah, ameliorasi, budidaya tanaman adaptif ramah lingkungan dan pengelolaan air” demikian ditambahkan Asep Nugraha Ardiwinata.

 

Dengan mengangkat topik “Peran Pemuliaan Tanah untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Pelestarian Lingkungan” seminar juga dihadiri pembicara lain diantaranya Dr. Didik Suprayoga dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, dan  Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS Dekan Fakultas Pertanian UNS.

Sedangkan Dr. Didik Suprayoga dalam presentasinya menyoroti tentang masalah “Kesehatan Tanah sebagai Pilar Pertanan Berkelanjutan”, dosen Universitas Brawijaya ini mengajak untuk beralih dari pertanian konvensional menuju pertanian berkelanjutan “Karena praktek pertanian konvensional selama ini tidak memenuhi prinsip pertanian berkelanjutan karena terjadi degradasi tanah, limbah dan penggunaan yang berlebihan terhadap air, polusi lingkungan, hilangnya keanekaragaman genetik dll” demikian ungkap Didik Suprayoga.

 

“Sedangkan sistem pertanian berkelanjutan merupkan sistem yang terintegrasi dalam mempraktekan produksi tanaman (dan ternak) yang memiliki kekhasan lokal dalam penerapannya yang akan mampu dalam jangka panjang untuk: Kecukupan kebutuhan manusia akan pangan dan sandang (pemerataan (equity) pada stratifikasi sosial); Mengutamakan kualitas lingkungan dan dasar-dasar ekologis; Melakukan pemanfaatan yang paling efisien terhadap sumberdaya yang tidak terbaharukan dan sumberdaya yang ada di lahan petani; Keberlanjutan pemangunan ekonomi; dan Mengutamakan kualitas hidup masyarakat.”

 

“Managemen Kesehatan Tanah yang Baik harus menggunakan pendekatan yang menyeluruh untuk menciptakan lingkungan tanah (kimia, fisika, kimia dan komponen biologi) dapat bekerja secara utuh, untuk mendukung pertumbuhan tanaman dengan dampak terhadap lingkungan seminimal mungkin menuju Pertanian Berkelanjutan / Green Agriculture” demikian ditambahkan Didik.

Narasumber terakhir Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS yang juga merupakan Dekan FP UNS mengkritisi mengenai ketahanan pangan, “Ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan Indonesia dinilai belum kokoh. Hal ini diindikasikan masih impor produk pangan yang menunjukkan bahwa upaya ketahanan pangan masih terfokus pada ketersediaan dan konsumsi, dan belum berorientasi pada sisi produksi, kemandirian dan kedaulatan pangan”.

 

Ditambahkan Prof. Bambang “Untuk mencapai ketahanan dan kemandirian pangan dapat ditempuh antara lain dengan Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming System) yaitu suatu sistem pertanian yang mengintegrasikan beberapa unit usaha dibidang pertanian dalam arti luas (pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan dan kehutanan), dikelola secara terpadu, dan berorientasi ekologis, sehingga diperoleh peningkatan nilai ekonomi, tingkat efisiensi dan produktivitas yang tinggi”.