Info Pertanian: Jadwal Kegiatan Magang Mahasiswa | Impikan Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup di Pondok Pesantren, Mahasiswa FP Raih Juara | Mahasiswa PKP Juarai Ajang PHINISI di Makassar | Pekan Dosen Tamu : FAPERTA Hadirkan Pakar dari 4 Negara | Konferensi Internasional Pembangunan Berkelanjutan Ilmu Pangan dan Rekayasa Proses : Perspektif Terkini dan Tantangan Ke depan | FAPERTA Hadirkan Peneliti Aplikasi Metabolomik Universitas Osaka Jepang |

Konferensi Internasional Pembangunan Berkelanjutan Ilmu Pangan dan Rekayasa Proses : Perspektif Terkini dan Tantangan Ke depan

Mengacu data estimasi yang dirilis PBB tentang pertumbuhan populasi dunia, pada tahun 2030 diprediksi penduduk dunia akan mencapai 8.5 miliar jiwa dan akan terus bertambah menjadi 9.7 miliar pada tahun 2050. Pertumbuhan yang tinggi tersebut tentunya memunculkan pertanyaan mengenai daya dukung alam dan sejumlah masalah lainnya. Masih dari data PBB, didapatkan fakta bahwa satu dari sembilan orang di dunia (815 juta jiwa) mengalami kekurangan gizi. Fakta ini memperjelas bahwa permasalahan laju pertumbuhan penduduk dan daya dukung alam merupakan isu serius yang harus dipikirkan bersama jalan keluarnya. Kondisi ini melatarbelakangi poin kedua dari 17 SDGs Agenda 2030, yaitu “Zero Hunger”.

Poin tersebut dapat tercapai jika negara-negara di dunia bahu membahu untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi serta menggalakkan pertanian berkelanjutan. Sistem pertanian dan produksi pangan yang berkelanjutan akan menjamin stabilitas pasokan makanan sehingga semua orang dapat memiliki akses ke nutrisi dan kesehatan yang memadai. Selain itu, pasokan air bersih dan sumber energi yang berkelanjutan merupakan isu-isu pendukung yang juga patut untuk diperhitungkan.

Bidang ilmu pangan dan rekayasa proses terlibat dalam semua tantangan itu baik secara langsung maupun tidak langsung. Gizi makanan, keselamatan dan keamanan merupakan faktor penting yang membutuhkan perhatian serius. Berkurangnya jumlah lahan pertanian yang subur dan pertumbuhan populasi manusia yang semakin cepat memaksa para ahli untuk menemukan konsep baru untuk menjaga pasokan pangan dunia melalui penelitian inovatif di bidang ilmu pengetahuan dan rekayasa pengolahan pangan.

Upaya tersebut harus didukung oleh semua pihak dan membutuhkan kerja sama antara para ilmuan serta praktisi di seluruh dunia. Menyadari hal tersebut, Universitas Sebelas  Maret menyelenggarakan the 2nd International Conference on Food Science and Engineering (ICFSE) 2018, yang bertujuan untuk memfasilitasi akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, lembaga pemerintah dan swasta dalam mengungkapkan dan berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka mengenai topik atau permasalahan terkini dan tantangan ke depan terkait dengan ilmu pangan dan rekayasa proses.

Danar Praseptiangga, Ph.D selaku ketua panitia meyampaikan “ICFSE  yang ke-dua ini diselenggarakan di Solo Paragon Hotel dan Residence selama dua hari, yaitu tanggal 25-26 September 2018. Kegiatan ini merupakan kegiatan dua tahun-an, kerjasama dua fakultas di UNS, yaitu Fakultas Pertanian dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam”.

Danar Praseptiangga Ph.D juga menambahkan bahwa kegiatan ini menghadirkan 7 orang pakar dari 7 negara sebagai pembicara, dimana Prof. Sutarno Ph.D (Wakil Rektor UNS) sebagai keynote speaker, kemudian 6 pembicara utama lainnya, yaitu: Prof. Dr. Jinap Selamat (Department of Food Science, Universiti Putra Malaysia, Malaysia), Prof. Dr. Senay Simsek (Department of Plant Science, North Dakota State University, USA), Prof. Dr. Koen Dewettinck (Department of Food Safety and Food Quality, Ghent University, Belgium), Assoc. Prof. Dr. Jirawat Yongsawatdigul (School of Food Technology, Suranaree University of Technology, Thailand), Assist. Prof. Dr. Sastia Prama Putri (Department of Biotechnology, Osaka University, Japan),  Assoc. Prof. Dr. Jung Samooel (College of Agriculture and Life Science, Chungnam National University, Korea). 

“Masing-masing pembicara akan berbagi ide dan gagasan di forum ini sesuai dengan pengalaman dan kepakaran bidang ilmu yang dimiliki. Selain pembicara utama, kegiatan ini juga memberikan kesempatan untuk peneliti dan akademisi untuk mempresentasikan penelitian-penelitian terbaru mereka dibidang ilmu pangan dan rekayasa proses”.

“Dengan terselenggaranya ICFSE 2018 ini, diharapkan tidak hanya menjadi tempat di mana ide-ide ilmiah dan penelitian yang sangat baik dibagikan dan dipertukarkan, namun juga menjadi wadah mempererat persahabatan dan mendapatkan sahabat baru untuk mencapai tujuan bersama menciptakan dunia yang lebih baik untuk semua” demikian disampaikan Danar Praseptiangga, Ph.D disela-sela acara konferensi.