Info Pertanian: Jadwal Kegiatan Magang Mahasiswa | UNS hadirkan Penyuluh Pemerintah dan Perusahaan | Wirausaha Muda Mandiri : Tampil Beda | User Prodi Diploma Tiga Agribisnis : Alumni Diploma Tiga Mempunyai Skill dan Sikap Mental Yang Baik | UNS SERIUS KEMBANGKAN SENTRA PISANG DI JENAWI | Den Cokip, Paduan Cokelat dan Intip Karya Mahasiswa FP UNS |

FAPERTA Introduksi Alat Pengering Briket Arang

          Kualitas produk merupakan salah satu kunci sukses pemasaran, terutama bagi perusahaan yang berorientasi ekspor. Banyak perusahaan dalam negeri yang gagal melakukan ekspor dikarenakan kualitasnya belum memenuhi standar. PT Tropica Nucifera Industry dan PT. Surya Coco Jaya merupakan perusahaan yang berlokasi di Yogyakarta yang menghasilkan produk-produk  berbasis kelapa, antara lain Virgin Coconut Oil (VCO), nata de coco, sabun, kosmetik, asap cair dan briket arang tempurung kelapa. Kedua perusahaan tersebut telah berhasil mengekspor produk-produknya, antara lain ke Arab Saudi, Malaysia, Hongkong dan Singapura. Bahkan untuk briket arang tempurung kelapa, permintaan ekspor pernah mencapai 28 ton per bulan. Persaingan usaha yang semakin ketat menuntut kedua perusahaan tersebut untuk terus meningkatkan kualitas produknya agar dapat mempertahankan pasar ekspor yang telah dimiliki.

             Menanggapi fenomena tersebut, tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret yang dipimpin Dimas Rahadian Aji M, STP, M.Sc, Sabtu, 13 Oktober 2012 melakukan introduksi alat pengering briket arang zero waste berbahan bakar biomasa di perusahaan PT Tropica Nucifera Industry dan PT. Surya Coco Jaya yang berlokasi di Yogyakarta  Dalam kesempatan tersebut Dimas Rahadian menyampaikan bahwa biomasa yang digunakan sebagai sumber panas adalah tempurung kelapa. Arang tempurung kelapa yang digunakan sebagai bahan bakar, dapat diolah lebih lanjut menjadi briket, demikian seterusnya, sehingga alat pengering tersebut tidak menghasilkan limbah.

            Pengering yang dirancang mempunyai kapasitas 600 kg/jam dan berhasil mempertahankan kadar air briket arang hingga mencapai kurang dari 5 %. Selain introduksi alat pengering, tim juga membantu mengupgrade website perusahaan agar dapat lebih mudah diakses oleh masyarakat global. “Hal ini merupakan upaya untuk terus meningkatkan pasar ekspor di luar negeri” ungkap Fanny Widadie salah satu anggota tim pengabdian. Sumber dana dari kegiatan ini adalah DIPA UNS tahun anggaran 2012 melalui Program IPTEKS bagi Produk Ekspor.